"Good morning,Mr.Simple"teriak cewe berseragam SMU itu seraya berlari menghampiri cowo SMU y mengenakan seragam yg sama.
Cowo itupun menghentikan langkahnya dan menatap cewe imut yg kini berdiri disampingnya.
"bisa loe ga nyapa gw kayak tadi" cowo tinggi itu berkata dengan nada kesalnya membuat cewe putih itu tersenyum.
"bagus dung, dari pada gw manggil loe Mr.jelek, ayo pilih yg mana?"
Cewe imut berkulit putih dgn rambut panjangnya yg selalu diikat itu bernama andriana chantika maharani atau biasa dipanggil anna atau cantik. Dan cowo tinggi berkulit putih dgn wajah yg cukup tampan itu bernama Morgan handy winata atau biasa disapa Morgan atau Mr.simple panggilan anna khusus untuk morgan sahabatnya.
Anna adalah cewe yg energic dan sedikit ceroboh sementara morgan adalah cowo misterius yg ga suka sesuatu yg neko neko dan lebih cenderung pendiam, mereka bersahabat sejak awal masuk Sma.
Morgan melanjutkan langkahnya yg sempat terhenti karena anna memanggil y disusul oleh anna berjalan dibelakangnya.
Langkah morgan begitu cepat membuat anna kewalahan mengejarnya..
"Morgan, tunggu gw" anna berkata sambil menyimbangi langkah seribu Morgan.
"dasar keong"kata morgan pelan berharap anna tak mendengarnya.
"apa?" Anna menatap tajam Morgan yg terus melangkah,Morgan selalu saja mengacuhkannya, "bagaimana aku bisa bersahabat dgn cowo sedingin ini?"
Akhirnya mereka tiba juga digedung pendidikan itu,dan Anna masih mengimbangi jalan morgan yg cukup cepat.
Mereka terus mengintari kolidor sekolah sebelum seseorang memanggil nama anna.
"Anna"teriak cowo berbehel membuat anna dan morgan berhenti dan menatapnya.
Anna menatap cowo bertopi itu menghampiri mereka dgn setangkai bunga ditangan kanannya.
"ada apa?"tanya anna sambil menatap cowo itu yg kini berdiri didepannya.
"nih,buat kamu"cowo itu memberikan anna yg ada ditangannya dgn cepat anna meraihnya. Morgan y berdiri disamping ana hanya diam menatap keduanya.
"wah indah sekali,terimakasih" anna terus menatap kagum bunga ditangannya, tangkai bunga itu cukup panjang dan ada dua daun diantara tangkainya.
"loe suka?"
"iya, gw suka bunganya"
"bukan bunganya tapi ulet"
"apa?ulet?"
Anna berkata dgn nada takut sambil menatap cowo itu yg membalikkan daun hijau ditangkai bunga itu. Betapa terkejutnya anna mendapati ulet gendut diantara dedaunan itu.
"Aahh..."teriak anna histeris sambil memeluk Morgan disampingnya,Morgan y terkejut dgn pelukan anna hanya terdiam..Anna seketika membuang bunga ditangannya kelantai sekolah dan terdengar jelas suara tawa senang dari bibir cowo jail itu.
Anna melepas pelukannya dan menatap tajam cowo berbehel y masih tertawa lepas.
"Bismaa"Anna berkata sambil memukul lengan bisma.
Yah..namanya bisma karisma, cowo energic yg hobi menjaili orang lain dan jago dance, bisma adalah ketua dance di SMA merah putih itu...
Dan sebenarnya sejak lama bisma menyukai anna, teman sekelasnya sekaligus teman sebangkunya yg selalu ia jaili.
Morgan melangkahkan kakinya menjauhi keduanya yg sedang berdebat, langkahnya memasuki perpustakaan disamping ruang kesenian.
"bisa sehari ajah loe gak ngerjain gw?"tanya anna dengan wajah cemberutnya.
"ga bisa"jawab bisma enteng sambil mengambil bunga yg tergeletak dilantai dan membuangnya ketanaman kecil didepannya.
Tiba2 seseorang menabrak punggung bisma membuat bisma menatapnya tajam.
"aduh cupu,kalau jalan liat liat dung, untung yg loe tabrak gw bukan siRafa cowo sombong angkuh itu kalau enggak loe bisa dilabrak"bisma berkata pada cowo berkacamata yg berdiri disampingnya..
"maaf"katanya pelan dan berlalu pergi..
"dia itu dicky kan?"tanya anna sambil menatap bisma yg mengangguk.
Cowo berkacamata tebal yg hobi membaca itu bernama Dicky prasetya,Dicky adalah murid teladan yg selalu menjadi juara kelas dan dicky itu adalah ketua kelas dikelasnya. Walaupun cupu tp dicky itu cukup manis loch..
Anna menatap sekeliling pandangan'a langsung tertuju pada cowo tinggi yg sedang bermain basket ditengah lapangan,gayanya begitu lincah dan menawan membuat anna terpanah,bisma menatap ana y serius memandang cowo basket itu.
"dia sangat tampan"kata2 anna membuat bisma menatapnya tajam.
"siapa?"
"Rafael" jawab anna singkat sambil terus memperhatikan cowo berwajah oriental itu.
Sejak lama anna mengagumi sosok cowo oriental itu, tapi sifatnya yg cool dan arogant membuat anna enggan menyatakan perasaannya.
Tapi bagi anna cowo bernama lengkap Rafael laundry tanubrata itu adalah pujaan hatinya selamanya.
"bisma buku gw mana?"teriak seorang cowo sambil berdiri disamping bisma.
Annapun segera menatap kedua sahabat bisma itu.
Reza adalah cowo playboy yg memiliki banyak kekasih wajahnya yg ganteng membuatnya menjadi idola..sementara ilham adalah cowo manis yg hobi melukis dan bikin puisi, dan ilham termasuk cowo romantis yg penuh perhatian terhadap semua cewe..bisma,reza dan ilham adalah sahabat tak terpisahkan..
"buku loe ada ditas gw,tenang ajah za"bisma berkata sambil merangkul lengan Reza tp reza menepisnya. Sementara ilham yg berdiri disampingnya hanya tersenyum tipis. Ilham mengalihkan pandangannya pada anna yg juga menatapnya dan mengambil sesuatu dari dalam saku seragamnya.
"ini buat kamu"ilham mengulurkan selembar kertas pada sasya yg langsung mengambilnya.
"ini apa?"tanya anna bingung.
"buka ajah"ilham segera berlalu setelah mengatakan kata2 itu dan annapun segera membukanya..
Anna membaca sebuah tulisan yg tertera disana.
I LOVE YOU,ANNA
Anna terduduk dipinggir lapangan, matanya tak pernah lepas memandang pujaannya Rafael yg sedang asik mengiring bola basket ditengah lapangan. Jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi jadi sekeliling gedung pendidikan itu masih terlihat sepi. Udara pagi ini begitu panas membuat tenggorokan Anna menjadi haus.
Rafael terus menggiring bola dengan lincah dan energic membuat anna semakin mengaguminya,Anna menatap kedepan dilihatnya beberapa cewe genit memanggil manggil nama pujaannya. Ternyata bukan hanya Anna yg terpesona pada ketampanan Rafael kapten basket sekolah.
"Anna"teriak seseorang membuat anna memalingkan wajahnya dari sekumpulan cewe centil itu. dilihatnya bisma duduk disampingnya.
"Bisma, ada apa?" anna menjauhkan duduknya kekanan, takut takut bisma membawa ulet gendut seperti tadi pagi.melihat tingkah anna bisma hanya tersenyum tipis.
"Ini untukmu,"Bisma berkata sambil meyodorkan sekaleng minuman soda pada anna yg segera mengambilnya.
"terimakasih"
"bukalah, aku rasa kau haus dan butuh sesuatu untuk menyegarkan tenggorokanmu" kata kata bisma membuat anna tersenyum lepas.
Untuk sesaat Anna terdiam, apa ini salah satu kejailan bisma padanya, tumben tumben bisma memberinya minuman sesuatu yg tak pernah bisma lakukan sebelumnya.
"tenang ajah ga ada uletnya kok" ledek bisma sambil menaikkan kedua alisnya genit.
Anna pun segera membukanya, tapi tiba tiba benar saja apa yg ditakutinya terjadi....
bruuurrrrrhhhhh seketika minuman soda itu menyembur tubuh dan wajah Anna membuat Bisma tertawa lepas, ternyata sebelum minuman itu bisma berikan pada anna, Bisma telah mengocok ngocok minuman itu hingga soda dalam minuman itu menyatu dan saat minuman itu dibuka soda itupun seketika menyembur sang pembuka.
Anna menatap Bisma garang yg masih tertawa.
Rafael yg telah menghentikan permainan menatap anna dan menghampirinya, terlihat handuk kecil dilehernya.
"kau baik baik saja?" tanya rafael pada Anna yg berdiri. Anna berusaha membersihkan semua soda disekujur tubuhnya tak tak menyadari kehadiran Rafael.
"pakailah ini untuk membersikan seragammu" rafael memberikan handuk kecil yg tergelantung dilehernya pada Anna, sesaat Anna baru menyadari pujaannya ada disampingnya.
Anna tersipu malu sambil meraih handuk kecil ditangan Rafael dan mulai membersihkan seragamnya, Rafael terus menatap Anna sambil tersenyum.
sementara bisma masih tertawa terbahak bahak hingga berguling guling diaspal sekolah sambil memegangi perutnya... Rafa yg melihat tawa berlebihan bismapun menendang kaki kanan bisma membuat bisma terdiam dan berdiri.
"Sorry, Na" kata bisma diiringi senyum lebarnya.
"AWAS KAU, BISMA" ancam anna dalam hati sambil menatap garang bisma yg tersenyum tak berdosa.
****
"lihatlah morgan, handuk biru ini milik rafael, aku tak pernah menyangka dapat memilikinya" Anna terus saja memamerkan haduk biru milik rafael pada morgan yg duduk didepannya.
"rafa hanya meminjamkanmu bukan memberimu handuk itu" morgan berkata tampa memandang Anna yg terdiam, Cowo cool itupun sibuk membaca.
saat ini Anna dan Morgan berada di ruang perpustakaan.
"benar juga, tapi tak apa, itu artinya besok aku dapat bertemu dengannya lagi untuk mengembalikan ini,"Kata Anna sumriyah sambil terus melambai lambaikan handuk kedepan wajah Morgan.
"Morgan, apa kau tak ingin memegangnya?"pertanyaan Anna membuat Morgan berhenti membaca dan menatapnya tajam.
"untuk apa, kau pikir aku menyukai Rafael?"
"maaf" anna menunduk sambil mengembungkan kedua pipinya.
"tapi Morgan hari ini aku benar benar bahagia" Anna berkata yg tiba tiba kembali ceria membuat morgan menggelengkan kepalanya dan kembali membaca.
"Tadi aku tak menyangka akan sedekat itu dengan Rafa, apalagi tadi dia sempat tersenyum padaku,Morgan senyumnya itu sangat manis, senyum termanis yg pernah aku temui, mor..." Anna menghentikan perkataannya ketika mendapati morgan sibuk membaca dan tak menghiraukannya.
"Morgan, kau tak mendengarkanku?" anna menatap morgan kesal sambil menutup buku yg dibaca Morgan.
"untuk apa, apa kau pikir aku tak bosan mendengarkan kau bicara rafa, rafa, rafa dan rafa setiap harinya, carilah seseorang yg bersedia mendengarkan keluh kesahmu itu"
morgan berdiri dan meraih buku diatas meja kemudian berlalu meninggalkan Anna yg cemberut.
"kenapa dia?"
****
Bisma menghampiri ilham dan Reza yg sedang berbincang bincang disudut sekolah. dengan bunga mawar ditangannya Bisma duduk disamping keduanya.
"apaan tuh, bunga?" tanya Reza heran sambil menatap Bisma yg mengangguk.
"yepz, bunga mawar merah plus ulet gendut" jawab bisma enteng.
"ulet gendut?"seru ilham dan Reza berbarengan dengan tampang terkejutnya.
"yepz, nih liat" bisma membalikkan daun hijau itu dengan tangan kananya sementara tangan kirinya memegang gagang tangkai bunga mawar merah itu. seketika ilham dan Reza mendapati satu ekor ulet gendut dibelakang daun hijau itu.
Ilham menggeser tubuhnya menjauh dari Bisma karena takut sementara Reza hanya menggeleng gelengkan kepalanya heran.
"kau ingin menjaihili anna lagi?"ilham bertanya sambil berdiri dari duduknya.
"mengapa, kau tak suka aku menjahilinya?" pertanyaan bisma membuat ilham terdiam sejenak.
" Wajah anna sangat luchu jika dia ketakutan seperti tadi,aku rasa akan lebih seru jika ada siaran ulangnya"kata bisma lagi sambil tersenyum evil.
"iya, apa kau tak kasihan padanya?"ilham berkata pelan sambil memperlihatkan wajah kecewanya membuat bisma yg menatapnya tersenyum.
Reza mengambil bunga ditangan bisma dan mulai bermain dengan ulet gendut ditangkai daun itu.
"tau dech yg suka, cinta, perhatian mah" ledek bisma sambil berdiri dan merangkul lengan Ilham.
*****
"Dimana dia, mengapa aku tak melihatnya?"Anna terus berjalan dikolidor sekolah sambil menengok kiri kanan mencari morgan sahabatnya.Anna telah mengintari seluruh ruang sekolah ini tapi tetap saja ia tak melihat morgan.
dengan handuk rafa masih ditangannya, Anna mendekati ruang kesenian dipojok kiri.
"apa mungkin morgan disana?"tanya anna dalam hati sambil mendekati ruang kesenian itu.
Anna terdiam saat mendapati Morgan disana dengan seorang cewe berseragm sama seperti anna.
"Angel?" anna memastikan sambil berdiri dibalik tembok, tiba tiba terdengar suara keduanya dari dalam ruang kesenian itu.
"mengapa kau selalu saja bersikap angkuh padaku, Morgan?" tanya angel cewe tinggi dan putih itu pada morgan yg terduduk didepan piano sementara posisi angel berdiri.
tak ada jawaban dari bibir morgan.
"Morgan, jawab aku, apa kau masih marah padaku?" tanya Angel lagi sambil memegang lengan Morgan membuat morgan menatapnya kaget.
"lepaskan, kau tak ingin aku bermain kasar padamu bukan?"morgan menepis pegangan tangan Angel dan berdiri.
"Apa kau tak bisa memaafkanku, Morgan"Angel berkata memelas sambil menundukkan wajahnya berharap Morgan simpati dan meminta maaf, tapi morgan berlalu begitu saja meninggalkan Angel yg kecewa dengan sikap angkuh Morgan.
Anna terus menyaksikan keduanya dari balik tembok, tapi tiba tiba seseorang menarik tangannya.
"kau???"belum sempat anna berbicara banyak tiba tiba orang itu menutup mulut anna dengan kedua tangannya membuat Anna diam Tak berkutik.... Anna membelakkan matanya menatap cowo yg kini ada didepannya, begitu dekat dan nyata...
***
"dicky,apa yg kau lakukan disini?"Tanya anna ketika dicky tak lagi mendekap mulutnya.
"seharusnya aku yg tanya padamu, apa yang kau lakukan disini, kau menguping, huh?" Dicky mengambil permen yuppy dikantong seragamnya dan membukanya.
"Tidak,kalaupun ia itu tak ada hubungannya denganmu" Anna berkata sambil merebut yuppy dari tangan Dicky dan memakannya.
"Yuppyku"Dicky berkata sambil menampakkan wajah cemberutnya membuat Anna tersenyum tipis.
"Jangan terlalu pelit,nanti kau bisa kaya mendadak," kata Anna sambil mengacak rambut cowo pintar itu.
Anna berlalu meninggalkan dicky yg masih belum ikhlas menerima kenyataan yuppy miliknya dimakan Anna.
***
"Dimana dia, tumben belum kembali?"Anna menatap keluar kelas menanti kedatangan MR.Jahil Bisma karisma..
"Bisma karisma..nama yg indah, tapi tidak dgn pemiliknya yang selalu membuat orang kesal"Gerutu Anna dalam hati.
"Bisma mana?"tanya anna pada ilham Dan Reza yang duduk dibelakangnya.
Ilham menggelengkan kepalanya sementara Reza mengangkat bahunya.
"Mana gue tau, Tumben loe nanyain Bisma, kenapa kangen loe ama dia," kata kata Reza membuat Anna memukul lengan reza keras.
"Siapa juga yang kangen, ga penting banget ngangenin Mr.jahil kayak dia" Anna terduduk dibangkunya dan menatap keluar kelas. Bel masuk telah berbunyi tapi kenapa Bisma belum kembali?
Anna menatap bangku disebelahnya, kosong hanya tampak tas ransel bisma tergeletak diatas meja.
Tak berapa lama,Bisma muncul dari balik pintu dan berjalan kearah tempat duduknya disamping Anna.
"Bis, tadi loe dicariin tuch ama Anna, katanya kangen sama loe" Reza berkata pada Bisma yg berdiri disamping mejanya.
"Benarkah,kau merindukanku?"tanya Bisma sambil menatap anna yg tersenyum sinis.
Bisma mencoba duduk dibangkunya..
"Emang cowo tampan nan mempesona seperti gue, selalu menjadi.."
Belum selesai kata itu diucapkan, tiba2.. BRRUUKK.. Bisma terjatuh dari duduknya, semua yg menatapnya tertawa lebar, tak terkecuali Anna Reza dan Ilham, seketika kelas menjadi risuh.. Bisma menundukkan kepala menahan malu sambil mengelus kakinya yg tiba2 ngilu.
"Makanya jadi cowo jangan jahil,makan tuch akibatnya, BISMA KARISMA,"Anna berkata dgn senyum kemenangan diwajahnya menatap Bisma diam tak berkutik.
"Tunggu pembalasan gue"
Kata Bisma dalam hati sambil berusaha berdiri, ditatapnya sekeliling kelas yang masih menertawakannya.
Morgan terdiam disudut ruang perpustakaan,pikirannya benar2 kacau, ia memilih untuk tetap diruang penuh buku bacaan itu ketimbang kembali mengikuti pelajaran.
Ia lebih senang menyendiri dan menyimpan masalahnya dalam hati, ia tak ingin ada satupun orang yg masuk dalam masalahnya.
Morgan membuka buku didepannya yg sedari tadi ia acuhkan dan mencoba membaca, tapi ia tetap tak dapat berkosentrasi, morgan menutup kembali buku didepannya dan menjatuhkan kepalanya keatas meja.
"Gue,harus lupain loe,Angel" kata Morgan pelan sambil berusaha menutup matanya.
"ANNA"Teriak seseorang membuat anna yg sedang membenahi kelas karena piket, berhenti dan menatap tajam cowo yg memanggil namanya tadi.
"Ilham"sapa anna pada ilham Yg tersenyum. Ilham berjalan kearah Anna dan mengambil sapu dari tangan Anna.
"Aku bantu yah" kata ilham lembut sambil mulai menyapu. Anna tersenyum sambil terus menatap cowo manis itu.
"kenapa kau begitu baik padaku?"Anna mencoba memulai pertanyaan sambil menghapus papan tulis didepannya.
"Aku rasa kau tau jawabannya" jawaban Ilham membuat Anna terdiam sejenak, Anna membalikkan badannya dan menatap ilham yg sedang menyapu meja paling belakang, tak ada siapapun dikelas hanya ada mereka berdua disana.
"Mengapa kau mencintaiku?" pertanyaan Anna yang tiba2 membuat ilham berhenti menyapu dan menatapnya tajam, jarak mereka memang cukup jauh tapi anna dapat merasakan tatapan tajam yg diberikan Ilham padanya.
"Apa ada alasan, untuk mencintai seseorang" jawab ilham sambil menatap Anna yg terdiam.
"I'm here" Reza berkata tiba2 dari arah pintu membuat keheningan itu berakhir,Tampak bisma mengekor dibelakang Reza.
"Perasaan hari ini bukan hari piket loe ham" Reza menatap daftar piket didinding kelas.
"gue cuma bantu2 ajah" ilham kembali menyapu begitupun Anna yg kembali membersihkan papan tulis.
Bisma mendekati anna dgn ulet gendut ditangannya, Anna terus ajah asik menghapus papan tulis dan tak menyadari bisma dibelakangnya.
Reza menatap Bisma yang mulai menjaili Anna dgn meletakkan ulet dibahu kiri Anna.
Reza melangkahkan kakinya berdiri disamping Anna,
"biasanya situasi seperti ini,Anna membutuhkan seseorang untuk dipeluk, kesempatan buat gue" kata Reza dalam hati sambil tersenyum tipis.
"Anna, kamu ga ngerasain sesuatu gitu yang aneh dibahu kamu?" pertanyaan bisma membuat anna membalikkan badannya dan menatap bisma yg tersenyum menampakkan deretan giginya yg berbehel.
"ga, emang kenapa?" tanya anna balik sambil memegang penghapus papan tulis ditangannya.
"Ga, itu ada ulet dibaju kamu" Bisma berkata sambil menunjuk ulet yg sedang jalan2 dibaju putih Anna, membuat Anna seketika berteriak kencang dan Reza siap2 menangkap pelukan cewe mungil itu.
"AAAAHHHH"Teriak Anna reflek sambil melempar penghapus papan tulis kesamping yg tak sengaja mengenai kepala Reza.
"aow"Rintih reza kesakitan.
Bisma tertawa lepas melihat anna loncat loncat ketakutan sambil membuang ulet dari baju seragamnya.
"Bisma karisma"Teriak anna kesal setelah berhasil menjauhkan ulet dari seragamnya dan menatap tajam bisma yg masih tertawa.
Anna mengalihkan pandangannya pada Reza yg sedang memegangi kepalanya.
"kamu kenapa?"tanya Anna tanpa rasa bersalah.
"seharusnya loe meluk gue, bukan malah lempar gue pake penghapus" kata Reza kesal pada Anna yg menunduk.
"Maaf" kata anna pelan.
Ilham hanya terdiam sambil terus menatap ketiganya dari sudut kelas.
"Good morning,MR.Simple" teriak Anna sambil berlari menghampiri Morgan yg berdiri disamping gerbang sekolah.
"Sekarang udah sore dan berhenti memanggilku mr.simple,"
"Aku selalu disini untuk menolongmu,"
"apa?"
"jika kau butuh seseorang untuk berbagi, aku bersedia mendengarnya" kata2 Anna membuat Morgan menatapnya tajam.
"apa kau pikir, saat ini aku sedang ada Masalah?"pertanyaan Morgan membuat anna mengangguk.
"kau sahabatku, aku akan melakukan apapun untukmu"
"benarkah?"Morgan menatap Anna yg mengangguk diiringi senyum manisnya.
Morgan meraih kedua tangan Anna membuat anna terkejut.
Morgan menggenggam erat tangan Anna dan menatapnya tajam..
Sebelum sebuah pertanyaan terlontar dari bibir sexy Morgan yg membuat Anna tersentak kaget..
"kalau begitu,jadilah pacarku"
Anna terdiam mendengar perkataan Morgan yg tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Anna menatap mata kecoklatan Morgan yg tajam menatapnya...
Tiba2 sebuah mobil menyerempet tubuh mungil Anna y berdiri ditengah jalan membuat anna terjatuh,seketika tangan Anna terlepas dari genggaman tangan Morgan.
"aww"teriak anna kesakitan sambil mengelus siku tangannya yg berdarah, mobil itupun berhenti.. Seseorang turun dari mobil dan menghampiri Anna yg masih duduk kesakitan.
"kau baik2 saja?"tanya pengemudi mobil itu yg ternyata adalah Rafa.
Anna menatap Rafa kaget sambil terus menatap Rafa yg membantu anna berdiri.
"Maaf,aku benar2 tidak sengaja,kau baik baik saja bukan?"pertanyaan Rafa itu membuat Anna tersenyum senang.
"Aku baik baik saja,"
"tapi siku mu berdarah"Rafa menatap siku Anna yg berdarah membuat Anna lagi2 tersenyum senang.
"tidak apa, jangan khawatir ini hanya masalah kecil."
"Bagaimana jika aku mengantarmu pulang?"
Pertanyaan Rafa membuat Anna terdiam, apa aku mimpi, Rafa mengajakku pulang bersamanya, siapapun tolong cubit aku, apa ini benar2 kenyataan..
"hello"Rafa melambaikan tangannya didepan wajah anna yg terdiam, tak ada respon Rafapun mencubit pelan pipi tembem anna.
"aww"Teriak anna kesakitan.
"Kau baik2 saja bukan?"pertanyaan Rafa membuat Anna mengangguk pelan sambil mengelus pipi merahnya.
"Bagaimana, apa kau mau aku antar?"tanya Rafa sambil menatap tajam Anna.
"terimakasih, tapi aku masih ada sedikit urusan, kau pulang saja"
"Baiklah" Rafapun melangkahkan kakinya menjauhi anna yg masih menatapnya tajam.
Rafa memasuki mobil hitam itu dan Berlalu.
"Bodoh, bodoh, mengapa aku menolaknya, ini adalah kesempatanku untuk dekat dgn Rafa, aku benar benar bodoh" anna berkata sambil mengacak acak rambut hitamnya.
"Tapi tunggu sepertinya aku melupakan sesuatu" Anna mencoba mengingat sesuatu yg sepertinya ia lupakan.
"Morgan"
Anna menatap sekeliling dan tak mendapati morgan disampingnya.
"kemana perginya dia?"
Keseriusan anna menatap Rafa membuatnya tak menyadari kepergian Morgan.
Anna telah sampai dikamar pink miliknya, anna menghampiri meja belajar dan menaruh tas pinknya diatas meja, Anna terduduk didepan meja belajar sambil mencari sesuatu dalam tasnya, seketika anna menemukan kertas bertuliskan "I LOVE YOU, ANNA" pemberian ilham, anna membuka laci dibawah meja belajarnya dan menaruh kertas itu didalamnya bersama kertas2 sebelumnya.. Yah sudah lebih dari 30 bertuliskan "I LOVE YOU, ANNA" pemberian ilham untuk anna, dan anna selalu menyimpan semua kertas pemberian ilham itu.
"aku tak butuh semua kertas ini, aku butuh kejujuran dari bibirmu, Ilham"
Anna menutup laci meja dan berjalan kearah tempat tidur dan berbaring.. Seketika anna teringat Morgan sahabatnya.
"kenapa dia selalu menghilang tiba2 seperti hantu,"
Anna menatap langit2 kamarnya.
"apa Morgan benar2 memintaku untuk menjadi pacarnya, apa aku hanya dijadikan pelampiasan cinta morgan pada Angel?"
Anna mengambil hp disaku seragam yg masih dipakainya "apa aku Sms dia?" annapun segera memainkan jemarinya diatas layar sentuh itu.
To: Mr.Simple (Morgan)
Apa kamu udah sampai Rumah?
Kenapa kamu tinggalin aku disekolah tadi?
10 menit tak ada sms balasan dari morgan, membuat Anna kembali mengirimi Morgan Sms.
To:Mr.Simple
Kenapa sms aku tak kau balas, apa kau marah padaku?
To:Mr.Simple
Good Morning Mr.Simple ^^
To: Mr.simple
Morgan
To:Mr.Simple
... :,( ...
Lebih dari 20 sms, anna kirim untuk Morgan tapi satupun tak ada jawaban dari cowo angkuh itu.
*** keesokan harinya ***
"Good Morning Mr.simple"teriak Anna sambil berlari menghampiri morgan yg terus berjalan mengacuhkannya.
Anna mencoba menyeimbangi jalan mereka.
"Morgan, mengapa kau tak membalas pesanku, apa pesanku tak masuk?"
Anna bertanya pada Morgan yg terus berjalan disampingnya.
"Ga ada pulsa"
"Kenapa kau tak mengisinya"
"malas"
Jawaban Morgan membuat Anna cemberut.
"Apa kau marah padaku?"tanya Anna sambil terus berjalan disamping Morgan.
"tidak,"jawaban Morgan singkat tanpa menatap anna.
"Lalu mengapa kau angkuh padaku?"
"karena ini sifat gue"
"Tapi dulu kamu tak pernah mengacuhkanku" anna berkata sambil menghentikan langkahnya dan menunduk.
Morgan menatap kebelakang, dilihatnya Anna yg menunduk sedih dan Morganpun menghampirinya.
"Maaf" Morgan berkata sambil mengangkat dagu anna membuat anna menatapnya.Morgan menurunkan sedikit tubuhnya mensejajarkan tubuhnya dgn tubuh mungil anna.
"gue ga bermaksud buat lo sedih karena sifat angkuh gue, tapi gue ingin lo tau inilah gue yg sebenarnya."
Anna menatap diam morgan yg masih bicara.
"sifat gue yg angkuh dan cuek membuat mereka menjauh, tapi kamu datang menawarkan persahabatan, cuma lo yang mengerti gue."
"Morgan.."
"gue gak akan pernah marah sama loe, mengerti?"kata2 Morgan anna mengangguk. "dan terimakasih, untuk pertemanan ini," Morgan tersenyum tipis sambil membelai lembut Rambut hitam Anna..
Anna kembali berjalan disamping morgan.
"Oh yah, tentang perkataan kamu kemarin, aku..."
"lupakan," Kata morgan memotong perkataan anna, membuat anna terkejut.
"Apa?"
"Anggap gue ga pernah ngomong apapun sama loe"
Perkataan Morgan membuat Anna terdiam tanpa kata.
Anna telah tiba dikelasnya, pikiran anna tak bisa lepas memikirkan perkataan Morgan tadi.
Bagaimana bisa, dengan mudahnya Morgan menyuruhnya melupakan kata2 yg telah membuatnya susah tidur karena memikirkan kata2 itu. "kalau begitu jadilah pacarku", memang anna hanya menganggap Morgan sahabatnya tapi entah mengapa saat Morgan mengatakan itu, hati Anna berbunga bunga.. Dan sekarang Morgan menyuruhnya untuk melupakan semuanya.
Anna terduduk dibangkunya dan menatap bangku Bisma yg kosong, tak beberapa lama tiba ilham dan Reza yg duduk tepat dibelakang Anna, tapi anna tak mendapati Bisma yg selalu bersama ilham dan Reza.
Tiba2 hp Anna bergetar tanda satu sms masuk.
Dan annapun segera membacanya.
From: Mr.Jahil (Bisma)
Ehh jelek, hari ini gue ga masuk, lo jangan kangenin gue yee
To:Mr.Jahil
Ga penting -,-'
Anna berjalan lurus dikolidor sekolah, sesekali menatap kiri kanan mencari seseorang dgn handuk kecil milik Rafael ditangannya.
"Rafa,dimana dia?"
Tanya anna dalam hati mencari2 Rafael.
Tiba2 anna menatap Rafael yg menarik tangan Angel memasuki ruang UKS, membuat anna melangkahkan kakinya menuju ruang UKS dan menatap keduanya yg sedang berdebat.
Dari balik pintu anna mendengarkan perkataan keduanya.
"Lepasin gue Rafa," Angel berkata sambil berusaha menepis pegangan tangan Rafa.
"gue butuh penjelasan dari lo, Angel"
"Penjelasan apa lagi, kita udah putus,Raf."
Putus.. Apa mereka sempat jadian.. Batin Anna.
"Gue Cinta Loe, angel"Rafa berkata sambil terus menggenggam tangan angel membuat Angel terdiam.
Begitupun anna yg tiba2 membeku mendengar perkataan Rafa itu.
Hati anna tiba2 sakit dan sesak mendengar cowo yg dicintainya ternyata mencintai cewe lain, yang tak lain adalah Angel, Kakak kandung Anna.
CONTINUE *****8
Senin, 30 Januari 2012
Minggu, 29 Januari 2012
"Baby,I'm Troublemaker" Part1
"UDAH BERAPA KALI GW BILANGIN LOE, JANGAN PERNAH IKUT CAMPUR URUSAN GW, KALAU GA MAU TANGAN LOE GW PATAHIN" teriak seorang cowo bertubuh tinggi dgn mengunakan topi y menutupi sebagian wajahnya sambil menarik paksa kerah baju siswa berkaca mata.
"maaf dil, tapi beneran bukan aku yg laporin kamu pada kepala sekolah"
Siswa itu berkata dgn nada ketakutan.
Cowo tinggi itupun mendorong tubuh siswa berkaca mata hingga terjatuh keaspal.
Saat itu mereka berada digudang sekolah.
"kali ini loe selamat tapi lain kali gw akan buat tangan loe benar2 patah, ngerti"
Siswa berkaca mata itupun mengangguk.
"sekarang loe bangun dan pergi dari hadapan gw" cowo itu berkata sambil menatap siswa berkacamata tebal yg berdiri dan berlalu pergi.
Cowo tinggi bertopi itu bernama dyland alviero alzantra. Cowo bertubuh tinggi, dgn kulit kecoklatan ciri khas seorang cowo y tak pernah ada dirumah (bukan berarti berkulit hitam) bermata coklat tua dgn bulu mata lentik dibagian bawah, berhidung mancung yg memiliki kaki cukup panjang dan berambut dgn potongan pendek dgn poni miring y menutupi sebagian mata kirinya.
Dyland adalah siswa yg sering membuat masalah disekolah.
Segala hukuman tlah ia rasakan tapi tak ada satu hukumanpun y membuatnya jera.
Karena itu ia mendapat julukan sang troublemaker di sekolah.
Satu rahasia, walau dyland adalah troublemaker tapi ia paling takut dgn cicak dan dyland tak bisa mengikat tali sepatu karena itu ia slalu menggunakan sepatu tanpa tali untuk berangkat sekolah.
Seorang gadis berkulit putih berambut panjang sebahu, berjalan seorang diri dikolidor sekolah, matanya terus menatap kiri kanan seolah2 sedang mencari seseorang.
Langkahnya pun terhenti tepat didepan perpustakaan.
"dyland mana? Apa dia bolos lagi?" cewe imut itu berkata dgn wajah cemas.
Namanya marisya aprilanie debora.
Cewe imut, dgn rambut sebahu kecoklatan berkulit putih yg memiliki lesung pipi disalah satu pipi kirinya.
Cewe yg biasa dipanggil sasya adalah salah satu siswi teladan disekolah.
Diantara banyaknya siswa hanya sasyalah y brani dekat dgn dyland sang troublemaker yg terkenal galak.
Karena bagi sasya dyland adalah pangeran untuknya.
"kau mencariku?" dyland berkata tiba2 sambil berdiri disamping sasya membuat sasya terkejut.
"oh ti..dak.."kata sasya terbata-bata.
"sudah jujurlah padaku, kau tak usah takut" dyland berkata sambil mendekatkan wajahnya kewajah sasya yg memerah.
Dgn cepat sasya menjauhkan wajahnya dari wajah dyland.
"tidak aku tidak mencarimu"
Perkataan sasya membuat dyland menatapnya tajam.
"dasar bodoh, kau pikir aku tak tau apa yg ada dipikiranmu, kau memikirkan aku, benarkan?"
Kali ini dyland berkata sambil menaikkan kedua alisnya secara bergantian membuat sasya salah tingkah.
"jangan selalu memikirkan aku, itu hanya membuat tubuhmu semakin kurus"
Dyland pun berlalu setelah kata2 itu ia ucapkan.
Sementara sasya masih terdiam tanpa suara menatap dyland yg semakin menjauh.
"maaf dil, tapi beneran bukan aku yg laporin kamu pada kepala sekolah"
Siswa itu berkata dgn nada ketakutan.
Cowo tinggi itupun mendorong tubuh siswa berkaca mata hingga terjatuh keaspal.
Saat itu mereka berada digudang sekolah.
"kali ini loe selamat tapi lain kali gw akan buat tangan loe benar2 patah, ngerti"
Siswa berkaca mata itupun mengangguk.
"sekarang loe bangun dan pergi dari hadapan gw" cowo itu berkata sambil menatap siswa berkacamata tebal yg berdiri dan berlalu pergi.
Cowo tinggi bertopi itu bernama dyland alviero alzantra. Cowo bertubuh tinggi, dgn kulit kecoklatan ciri khas seorang cowo y tak pernah ada dirumah (bukan berarti berkulit hitam) bermata coklat tua dgn bulu mata lentik dibagian bawah, berhidung mancung yg memiliki kaki cukup panjang dan berambut dgn potongan pendek dgn poni miring y menutupi sebagian mata kirinya.
Dyland adalah siswa yg sering membuat masalah disekolah.
Segala hukuman tlah ia rasakan tapi tak ada satu hukumanpun y membuatnya jera.
Karena itu ia mendapat julukan sang troublemaker di sekolah.
Satu rahasia, walau dyland adalah troublemaker tapi ia paling takut dgn cicak dan dyland tak bisa mengikat tali sepatu karena itu ia slalu menggunakan sepatu tanpa tali untuk berangkat sekolah.
Seorang gadis berkulit putih berambut panjang sebahu, berjalan seorang diri dikolidor sekolah, matanya terus menatap kiri kanan seolah2 sedang mencari seseorang.
Langkahnya pun terhenti tepat didepan perpustakaan.
"dyland mana? Apa dia bolos lagi?" cewe imut itu berkata dgn wajah cemas.
Namanya marisya aprilanie debora.
Cewe imut, dgn rambut sebahu kecoklatan berkulit putih yg memiliki lesung pipi disalah satu pipi kirinya.
Cewe yg biasa dipanggil sasya adalah salah satu siswi teladan disekolah.
Diantara banyaknya siswa hanya sasyalah y brani dekat dgn dyland sang troublemaker yg terkenal galak.
Karena bagi sasya dyland adalah pangeran untuknya.
"kau mencariku?" dyland berkata tiba2 sambil berdiri disamping sasya membuat sasya terkejut.
"oh ti..dak.."kata sasya terbata-bata.
"sudah jujurlah padaku, kau tak usah takut" dyland berkata sambil mendekatkan wajahnya kewajah sasya yg memerah.
Dgn cepat sasya menjauhkan wajahnya dari wajah dyland.
"tidak aku tidak mencarimu"
Perkataan sasya membuat dyland menatapnya tajam.
"dasar bodoh, kau pikir aku tak tau apa yg ada dipikiranmu, kau memikirkan aku, benarkan?"
Kali ini dyland berkata sambil menaikkan kedua alisnya secara bergantian membuat sasya salah tingkah.
"jangan selalu memikirkan aku, itu hanya membuat tubuhmu semakin kurus"
Dyland pun berlalu setelah kata2 itu ia ucapkan.
Sementara sasya masih terdiam tanpa suara menatap dyland yg semakin menjauh.
Tak mendapati dyland dikelas,sasyapun langsung keluar kelas. Matanya langsung tertuju pada dyland yg sedang berjalan keluar gerbang.
"DYLAND" Teriak sasya sambil berlari kearah dyland. Dyland menghentikan langkahnya kini sasya tlah didepannya.
"ada apa?"tanya dyland datar.
"kamu mau kabur lagi?"pertanyaan sasya itu membuat dyland mengangguk.
"kenapa?"tanya dyland balik. Tak ada jawaban dari bibir merah sasya.
"pergi dan masuklah" perintah dyland pada sasya yg masih terdiam.
Dyland melangkahkan kakinya kembali tapi sasya menarik tangan kanan dyland membuat dyland tak dapat bergerak.
"lepasin aku" dyland menepis tangan kanan sasya. Ditatapnya sasya y menunduk.
"apa aku terlalu kasar padanya?"tanya dyland dalam hati.
"dyland"
"ya"
"aku ingin ikut dgnmu"
Kata2 sasya membuat dyland kaget dan terdiam beberapa saat sebelum kembali bicara.
"dasar bodoh, kamu pikir aku akan membawamu kabur dan ikut dgnku, sekarang masuklah sebelum pelajaran dimulai"
Sasya menggeleng
"kenapa, bukankah kabur dijam pelajaran adalah sesuatu Y mengasikkan?"
Dyland benar2 bingung.apa yg harus ia katakan pada sasya?
"iya kau benar kabur dijam pelajaran adalah sesuatu yg sangat mengasikkan, tapi kau tak pantas melakukannya??"
"kenapa? Bukankah aku juga pelajar sepertimu?"
Dyland menatap tajam sasya yg juga menatapnya, untuk beberapa saat mata mereka saling beradu.
Dyland menaikkan kedua tangannya dan ditaruhnya diatas bahu sasya, ia mencoba mensejajarkan badannya y tinggi dgn tubuh mungil sasya. Dyland membungkukkan sedikit badannya agar sejajar dgn sasya.
"ok,kamu tau bagaimana cara memanjat pagar saat seorang guru memergokimu kabur dijam pelajaran?"sasya menggeleng
"kamu tau bagaimana cara berbohong pada orangtuamu tentang hari menyenangkan y kau jalani disekolah padahal kau tak pernah tau apa y tlah terjadi disekolahmu?"sasya menggeleng.
"dan kau tau bagaimana rasanya mendapatkan sebuah hukuman membersihkan lapangan,lari,terjemur dibawah tiang bendera dalam keadaan matahari tepat diatas kepala kita?"lagi2 sasya menggeleng.
Sasya menundukkan wajahnya tapi dyland mengangkat dagu sasya hingga sasya menatapnya.
"masuklah,dan aku akan pergi"
Dyland menaikkan kembali badannya hingga kembali keposisi awal.
"kamu akan baik2 ajah kan?" pertanyaan sasya membuat dyland mengangguk.
"i'm dyland,everythin' is gonna be ok"
******
Rumah dyland dan sasya bersebelahan bahkan jendela kamar merekapun saling berdampingan.
Disanalah awal mula sasya menyukai dyland.
Secara diam2 dari balik jendela sasya selalu memperhatikan dyland yg sedang menyendiri dan bermain2 dgn kucing peliharaannya. Yah dyland memiliki seekor kucing yg sangat luchu y ia beri nama mandy (si manisnya dyland) ^^
Mungkin mandylah tempat curhat dyland selama ini.
Sasya menatap tirai jendela kamar dyland y terbuka tapi tak ada seorangpun disana.
"apa dyland belum pulang?" ia menatap jam ditangannya
"jam sepuluh malam,seharusnya dia sudah pulang" resah sasya.
Tak beberapa lama sasya melihat dyland memasuki kamarnya dgn mandy ditangannya.
Dyland masih mengenakakan seragam sekolah. Diturunkannya mandy kelantai kamar dan dyland segera melepas tas dipundaknya dan membuangnya keatas tempat tidur.
Sepertinya dyland tak menyadari bahwa sasya sedang memperhatikannya.
"hari ini gw kabur lagi, gw ga tau hukuman apa y bakal gw terima besok pagi" dyland berkata sambil duduk disamping manis yg sedang bermain2 dgn bola. Dyland membelai lembut bulu putih kucing kesayangannya itu.
Sasya masih berdiri didepan jendela kamarnya.
Dyland berdiri untuk membuka baju seragamnya dan mengganti dgn kaos biru diatas meja belajar.
Sasya terdiam menatap dyland membuka bajunya. Tubuhnya y tegap dan perut sixpacknya terlihat jelas saat ini. Dyland tidak mengenakan kaos dalaman jadi tubuhnya langsung terlihat walaupun ia masih membuka kancing seragam y ia kenakan.
Dyland mengalihkan pandangannya kedepan betapa terkejutnya dyland mendapati sasya y menatapnya tanpa berkedip.
Dengan cepat dyland menutup tirai kamarnya.
"sejak kapan dia disana?" dylan meraih baju biru diatas meja belajar dan memakainya.
Sementara, kalian pasti tau apa y terjadi pada sasya ^^
****
CONTINUE....
Pagi ini udara terlihat sedikit mendung, bisa dipastikan beberapa jam kedepan butiran2 air hujan akan turuN.
Jam tlah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi,dgN malas dyland memasuki kelas bercat putih itu. Ia terus melangkah kearah tempat duduknya dan duduk.Ditaruhnya tas ransel dipundaknya diatas meja.
"tumben udah datang?" tanya aldy sang ketua kelas yg kebetulan duduk didepannya.
"karena tangan gw gatel mau mukul loe" kata dyland asal menbuat aldy takut dan menjauh.
Dyland menatap bangku sasya yg masih kosong.
"trauoblemaker" teriak seseorang keras membuat dyland menatap kearahnya.
Dilihatnya wahyu yg berdiri didepan kelas sambil menginsyaratkan sesuatu.
"gw tunggu loe digudang" ancamnya dan pergi.
Sasya yg baru tiba menatap dyland yg juga menatapnya. Mata elang dyland membuat sasya menunduk dan berjalan kearah tempat duduknya.
Dyland memutuskan untuk menemui wahyu dan berlalu keluar kelas.
Tapi langkahnya berhenti didepan kelas karena sasya memanggilnya.
"ada apa sasya?" dyland menatap sasya y berdiri didepannya.
"kamu mau kemana?"
"wahyu nunggu aku digudang belakang sekolah"
"kamu mau berantem lagi?"
Dyland mengangguk dan meraba saku celana dan mengambil hp nokia miliknya. Satu sms masuk dari wahyu. Dylandpun segera membacanya.
From: 62746 (kebiasan dyland, selalu menandai nama teman dihandphone miliknya dgn angka,entah apa maksudnya)
KALAU LOE GA DATANG BERARTI LOE SAMA PENGECUTNYA KAYA ALDY"
Dyland tersenyum sinis setelah membaca sms itu.
Pandangannya beralih pada sasya y masih berdiri didepannya.
"kenapa masih disini,sana duduk" perintah dyland membuat sasya menggeleng.
"kenapa? Kamu mau ikut aku berantem sama wahyu?"sasya menggeleng lagi.
"lalu?"
"hati2 yah" dyland menatap mata coklat sasya dan mengangguk.
"i'm dyland, everything is gonna be ok"
Dylandpun melangkah meninggalkan sasya dgn hp masih ditangannya.
Ternyata benar saja, wahyu telah menunggunya disana. Terlihat beberapa murid cowo dibelakangnya.
Dyland mendekati wahyu yg menatapnya tajam dan berdiri didepannya.
Mata dyland langsung tertuju pada tangan wahyu yg memegang sebilak kayu,untuk memukulnya,mungkin saja?
"ada apa?"dyland memulai pembicaraan.
Tak ada jawaban dari bibir wahyu,
Tiba2 sebuah balok kayu yg dipegang wahyu mendarat tepat dikepala dyland.
"gw mau,loe tamat" wahyu berkata sambil kembali memukul dyland,dyland mencoba mengelak tapi wahyu beserta ke5 temannya terus memukuli dyland hingga ia terjatuh.
Sasya tak dapat kosentrasi belajar. Pelajaran favoritenya tlah dimulai tapi pikirannya tak pernah lepas mengkhawatirkan dyland"apa dia baik2 ajah?"
Balok kayu itu terus menghantam tubuh kekar sang trauoblemaker, dyland menutup kedua matanya, meremas2 jari tangannya, ia mencari tenaga untuk membalas mereka. Tiba2
Bugh
Sebuah tonjokan mendarat tepat di pipi wahyu hingga membuatnya terjatuh.
Semua terdiam.
Dyland berdiri, wajah dan sekujur tubuhnya penuh darah.
Ia mendekati wahyu yg kesakitan, dyland mengambil handphone wahyu dari saku seragamnya dan melemparnya kearah wahyu.
"telpon nyokap loe dan bilang kalau loe akan pergi jauh dan ga akan kembali lagi, karena hari ini adalah hari terakhir loe hidup"
Dyland menarik balok kayu ditangan wahyu.
Tak ada satupun yg berani melawan dyland, mereka semua terdiam sambil menyaksikan dyland yg memulai aksinya.
Dyland menaikkan balok kayu ditangannya, belum sempat balok itu menghantam kepala wahyu, seorang guru memergoki mereka.
"dyland,wahyu,dan kalian semua, ikut bapak kekantor,SEKARANG"
Dyland dan wahyu beserta beberapa anak keluar dari ruang kepala sekolah.
"kali ini loe selamat" ancam dyland pada wahyu yg terus memegang bibirnya y berdarah. Dyland melangkahkan kakinya menjauhi mereka.
Tiba2 hpnya bergetar dan dyland mengambilnya.
Satu sms masuk.
From: 2468258 (sasya)
Aku tunggu kamu di UKS sekarang ^^
Dyland langsung mempercepat jalannya, entah kenapa ia ingin cepat2 bertemu sasya.
Kini ia tlah tiba diUKS. Dilihatnya sasya yg saat itu mengenakan bandana pink.
"ada apa?" pertanyaan dyland membuat sasya menatapnya sambil terseyum.
"sini duduk"perintahnya sambil menyuruh dyland duduk disampingnya.
Dan dylandpun mengikutinya. Kini mereka duduk berdampingan.
"ada apa?"dyland mencoba mengulang pertanyaan yg blum ia temukan jawabannya.
Tak ada jawaban dari bibir cewe manis itu. Sasya mengeluarkan betadine serta dari kotak Uks dan diusapkannya kebibir dyland y berdarah dgn lembut.
"loe.."
"diamlah karena aku sulit mengobatimu jika kau terus bicara"
Kata2 sasya membuat dyland terdiam. Ditatapnya bulu mata sasya y lentik bibirnya yg merah natural, rambutnya y terurai indak bagaikan seorang bidadari dan seketika jantungnya berdetak kencang.
Dgn lembut sasya terus mengobati luka dyland.
"kamu tau kalau kamu memiliki wajah yg sangat tampan, tapi wajahmu seketika dapat berubah jelek jika kau terus membiarkan wajahmu terluka"
Sasya berkata sambil mengobati lutut tangan dyland y berdarah.
Dyland masih terdiam.
"kalau kau terus seperti ini, kau hanya membuat orang yg mencintaimu cemas"
"seseorang yg menyukaiku,siapa?" pertanyaan dyland membuat sasya salah tingkah. Dyland tak boleh tau bahwa orang itu adalah sasya.
"selesai, kau boleh kembali kekelas sekarang" sasya berkata sambil berdiri dan menaruh kotak uks ditempatnya.
"seseorang yg mencintaiku? Apa dia kau?"
Tanya dyland yg masih terduduk.
Seketika sasya menatap mata dyland y menanti jawaban darinya.
Sasya mengalihkan pandangannya dan mengambil obat didepan.
"minumlah,obat ini akan membuat sakitmu sedikit hilang" tawar sasya sambil memyodorkan dyland sekapsul obat dan segelas air.
Dyland menatap sasya tajam.
"TAK PERLU"bentaknya dan pergi meninggalkan sasya yg kecewa.
Dyland menghentikan langkahnya dan menatap sasya dari luar jendela. Dilihatnya wajah sasya yg menunduk kecewa.
"apa aku bersikap kasar lagi padanya?"
Mata dyland beralih pada seorang siswa bertubuh tinggi dgn rambut poni depan memasuki ruang uks.
Dilihatnya cowo itu menggenggam tangan sasya.
"siapa dia?"
****
"hi,gw dhariel"Dhariel memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.
"sasya" balas sasya sambil membalas uluran tangan dhariel.
"kamu sakit" tanya dhariel ketika melihat sebutir obat ditangan kiri sasya.
"tidak, sebenarnya obat ini untuk seseorang, tapi ia menolaknya"
Dhiland masih menatap keduanya yg masih berpegangan tangan dari balik jendela. Perasaannya saat ini benar2 kacau. Entah mengapa?
Sasya menatap tangan dhariel yg masih menggenggam tangannya.
"maaf" dhariel menjauhkan tangannya dari tangan sasya dan duduk dibangku tempat dimana dhiland duduk tadi.
Dhiland menatap sasya y berjalan kearah lemari disamping kiri meja uks dan menaruh kembali obat yg dipegangnya ditempat semula.
"dia benar2 cantik" gumam dhariel sambil terus menatap sasya yg tak menghiraukannya.
"ternyata loe disini, nieh" mario menyerahkan sebuah surat pemberitahuan pada dhiland y masih berdiri didepan UKS.
"y namanya dhiland cuma satu, kenapa suratnya dua?"tanya dhiland sambil menatap wahyu y berdiri didepannya.
"oh itu, yg satu karena perkelahian loe ma wahyu tadi pagi dan satu lagi karena kemarin loe kabur dijam pelajaran" mario berkata sambil menepuk lengan kanan dhiland dan berlalu.
Dyland menatap surat ditangannya.
Ini bukanlah kali pertama ia mendapatkan surat pemberitahuan atau surat peringatan karena kenakalan yg tlah ia perbuat.
Dyland kembali menatap keruang UKS. tapi ia tak mendapati siapapun disana.
"kemana perginya mereka?"
****
"kita udah sampai" sasya berkata ketika tiba didepan kantor kepala sekolah dan menghentikan langkahnya.
"terimakasih" kata dhariel y berdiri disamping sasya.
"masuk sana!"perintah sasya. Dhariel hanya tersenyum.
"gw boleh minta pin BB loe?" tanya dhariel.
"ga punya"
"kalau nomor telephone?"
"ga ada"
"kalau alamat rumah ada kan?" pertanyaan dhariel membuat sasya menatapnya tajam.
"belum sampai satu jam kenalan udah minta nomer hplah,alamat rumahlah, dasar playboy"gerutu sasya dalam hati.
Tanpa menjawab pertanyaan dhariel sasya melangkahkan kaki kanannya, dhariel bergeser kekanan menghalangi langkah sasya.
"minggir gw mau lewat" kata sasya kesal.
"jawab dulu pertanyaan gw, baru loe boleh pergi" dhariel tersenyum memperlihatkan lesung pipi dikedua pipinya.
"biarin dia pergi atau gw akan buat loe pergi dari dunia ini" kata2 dyland membuat sasya dan dhariel menatapnya tajam.
Dyland mendorong tubuh dhariel kekiri menjauh dari hadapan sasya.
"pergilah!" dyland berkata sambil menatap sasya y tersenyum.
"terimakasih"
Sasyapun berlalu setelah kata itu ia ucapkan.
Kini hanya tinggal dhiland dan dhariel di depan kantor kepala sekolah.
Dyland mendorong tubuh dhariel untuk kedua kalinya hingga tubuh dhariel menempel ditembok. Didekatkannya wajahnya kewajah dhariel yg tersenyum.
"jauhi dia atau loe cari masalah sama gw" dylandpun berlalu meninggalkan dhariel y masih tersenyum.
"ternyata loe ga pernah berubah land, i miss you"
"dia siapa?"tanya dyland tiba2 ketika tiba disamping meja sasya.
"setau aku dia anak baru pindahan dari bandung" jawab sasya sambil menatap dyland y kini duduk disampingnya.
Hari ini dyland benar2 ganteng, walaupun beberapa goresan terlihat jelas diwajahnya tapi tetap saja tak menghilangkan ketampanan sang trauoblemaker.
"jauhi dia"dyland berkata peland membuat sasya mengernitkan dahinya.
Dyland berdiri dari duduk dan keluar kelas sebelum sasya sempat mengucapkan kata2.
"mengapa dyland menyuruhku menjauhi dhariel, apa dyland tak ingin aku dekat2 dgnnya. Apa itu artinya dyland cemburu?"
***
"trauoblemaker" dhariel berkata sambil menghampiri dyland yg sedang duduk ditaman belakang sekolah.
Ditatapnya dyland y mengacuhkannya.
Dyland sibuk dgn ipod y ia kenakan.
"trauoblemaker" dhariel duduk disamping dyland sambil menepuk lengan kiri dyland.
"loe mau mati?" dyland berkata kasar pada dhariel y tersenyum.
"ian gw balik , loe ga kangen sama gw?"
Dyland membuka hadset y sedari tadi melekat ditelinganya.
"loe ngomong apa?"
"gw balik ian, apa loe ga kangen ama gw?"
Dyland terdiam mendengar pertanyaan dhariel.
Tak ada jawaban dari bibir dyland. Ia bangun berdiri dan berlalu pergi.
Dyland menghentikan langkahnya sesampainya ditoilet cowo.
"kenapa gw harus ketemu loe lagi disaat gw udah bisa ngelupain loe, ariel?"
Rintik2 air hujan tlah membasahi bumi, beberapa anak keluar gerbang mempercepat langkahnya, jam pulang tlah tiba membuat bangunan putih itu terlihat sunyi hanya tampak beberapa siswa y sedang bermain basket walaupun hujan membasahi tubuh mereka.
Sasya melambatkan jalannya mengintari kolidor sekolah. Matanya terus menatap mario cs yg sedang beraksi ditengah lapangan.
"dyland pasti semakin tanpan jika ia dapat memainkan bola basket itu seperti Rio" sasya berkata sambil menghentikan langkahnya disamping sebuah tiang.
Terlalu fokus sasya memperhatikan kelincahan mario memainkan bola basket ditangannya membuat sasya tak menyadari sebuah bola mengarah kearahnya.
"AWAS" teriak mario keras.
"AAA..."teriak sasya tak kalah kerasnya saat menyadari sebuah bola mengarah kearahnya.
Sasya menutup kedua matanya,ia pasrah jika bola itu akan mengenai wajahnya.
Tapi 5 detik berlalu ia tak merasakan sebuah benturan keras diwajahnya.
Kemana perginya bola keras itu?
Dgn ragu dan penuh tanda tanya sasya berlahan membuka matanya.
Sebuah tangan kekar dilihatnya menghalangi bola didepan wajahnya.
Seseorang tlah menahan bola itu dgn tangan kekarnya agar tak mengenai wajah imut sasya.
Sasya menatap seorang cowo tinggi bermata coklat berdiri disampingnya.
"dhariel"kata sasya tak percaya.
Yah ternyata cowo itu adalah dhariel.
"segitu terpesonanya loe sama rio" dhariel menjauhkan bola itu dari hadapan sasya dan dharielpun mulai memain-mainkan bola ditangannya.
"gw suka cowo basket" kata sasya sambil terus memperhatikan dhariel y asik dgn bola ditangannya.
Kini dhariel dgn PD memutar bola orange kecoklatan itu dgn telunjuknya tapi belum sampai 3 detik bola itu jatuh keaspal sekolah.
Dilihatnya sasya y tertawa kecil.
"gw bisa loh main basket" perkataan dhariel itu membuat sasya berhenti tertawa dan terkejut.
"hoi, kembaliin bola gw" wahyu berkata keras pada dhariel y mengangguk.
"tunggu"
Dhariel membuka seragamnya dan kini ia hanya mengenakan kaos putih dan celana panjang sekolah.
Sasya benar2 tak ada ide, apa y akan dilakukan dhariel.
"nieh, pegangin seragam gw" dharielpun langsung ketengah lapangan menghampiri mario cs setelah memberikan segaram miliknya pada sasya.
"loe kapten basket?" tanya dhariel pada mario y mengangguk.
"lawan gw" kata dhariel lagi sambil melempar bola basket y sedari tadi ditangannya kearah mario. Dgn segap mario menangkapnya.
Pertarunganpun dimulai.
***
Dyland tiba dikamar tempat favoritenya, matanya langsung menatap tirai kamar sasya y terbuka. Tapi ia tak mendapati sasya disana.
Dilepasnya tas ransel dari pundaknya dan ditaruhnya diatas meja belajar. Dan dylandpun berlalu tanpa mengganti seragamnya.
Kini ia tlah berada diruang keluarga atau mungkin lebih tepatnya ruang kosong.
Ruang itu cukup besar dan ditujukan ruang untuk keluarga dyland berkumpul. Tapi ruang itu terlihat sepi karena kesibukan setiap keluarga membuat ruang yg seharusnya menjadi ruang favorite keluarga justru menjadi ruang yg sangat dyland benci.
"den muda,mau mana?" pertanyaan bi inah membuat dyland menghentikan langkahnya.
"sekolah, ada sesuatu y tertinggal" kata dyland sambil berlalu pergi.
Sasya terus menatap dhariel y beraksi. Hujan masih mengguyur kota jakarta tapi tak membuat ketangguhan seorang dhariel menggiring bola pudar. Mariopun tanpaknya kewalahan menghalangi bola ditangan dhariel agar tak masuk ke ring.
Tapi lagi2 dhariel mampu mencetak angka.
Tanpa berkedip sasya terus menatap dhariel y masih beraksi. Air hujan terus mengguyur tubuh tegap dhariel dan membasahi rambut hitamkecoklatan dhariel.
Kini dhariel mencoba menyetak 3 angka dari jarak y cukup jauh..
"seandainya bola ini masuk, itu berarti gw bisa miliki loe,sya" kata dhariel pelan sambil menatap sasya y menatapnya.
Dhariel mengalihkan pandangannya kedepan dan menutup kedua matanya berharap bola itu masuk dgn tepat.
Dinaikkannya bola ditangannya hingga sejajar dgn wajahnya dan...
Bersama rintikan air hujan bola itu melambung indah kearah ring dan berputar beberapa saat dipinggir ring bundar itu sampai akhirnya..
"masuk,yes" dhariel berkata senang sambil menatap sasya y tepuk tangan.
Tanpak mario cs y terdiam menatap kagum dhariel.
"wah keren banget, loe kalah jauh rio" kata irfan salah satu teman tim mario sambil menatap sang kapten yg melotot.
"tapi loe tetap the best kok" kata irfan lagi sambil menunjukkan kedua jempolnya.
"siapa dia?"tanya mario sambil menatap galih disampingnya.
"anak baru pindahan dari bandung, namanya dhariel" jawab galih pada mario y terus menatap tajam dhariel.
"gimana,aku hebat kan?"pertanyaan dhariel membuat sasya mengangguk.
Kini mereka berada dikelas sasya. Hanya sasya dan dhariel disana.
Dhariel duduk disamping sasya. Sasya mengembalikan seragam dhariel pada dhariel tapi dhariel justru memakaikan seragam itu untuk menutupi tubuh sasya y kedinginan.
"loe pake ajah, gw bawa baju ganti, berhubung gw ga bawa jaket loe pake ajah seragam gw" kata2 dhariel membuat sasya menatapnya tajam.
"sebenarnya dia cukup tampan" kata sasya dalam hati sambil terus menatap dhariel y sedang memainkan rambutnya y basah.
Dyland terus melangkah mendekati kelas, langkahnya terhenti mendapati sasya dan dhariel y sedang berbincang - bincang.
"dyland" sapa sasya sambil berdiri dari duduknya sementara dhariel masih duduk ditempatnya.
Tak ada jawaban atau sapaan balik dari dyland,ia langsung mendekati meja miliknya dan mengambil ipod miliknya y tertinggal.
"gw anter loe pulang sya" dhariel berkata sambil berdiri dan menggenggam tangan sasya.
"tapi.." belum selesai sasya bicara dhariel menariknya keluar kelas. Sasya menatap kebelakang, dilihatnya dyland y memandangnya sinis.
Sasya berharap bukan dhariel y mengantarnya pulang tapi dyland. Tak ada salahnya bukan sasya berharap lebih pada dyland, cowo yg dicintainya.
"tunggu" teriak dyland membuat sasya dan dhariel menghentikan langkahnya.
Ditatapnya dyland y berjalan kearah mereka. Dyland terus berjalan kearah tangan dhariel y menggenggam tangan sasya. Dgn tangan kekarnya dyland menjauhkan tangan dhariel dari sasya.
Ditatapnya sasya y mengenakan seragam dhariel menutupi seragam y sasya kenakan.
Tiba2 mario melewati mereka. Dyland menatap tajam mario y mengenakan jaket biru dan mencegah jalan mario.
"buka jaket loe"perintah dyland pada mario y berdiri didepannya.
"enak ajah" kata mario sinis.
"buka atau loe mau gw main kasar" kata2 dyland membuat mario melepas jaket dibadannya.
Dan diberikan pada dyland dan pergi.
"pake"kata dyland sambil membuka seragam dhariel y dikenakan sasya dan melemparnya kearah dhariel y menangkapnya.
Dhariel terus menatap dyland y sedang memakaikan sasya jaket.
Terlihat raut bahagia diwajah sasya saat itu dan raut kesedihan diwajah dhariel.
"gw tunggu loe digerbang" kata dyland pada sasya y mengangguk dan dylandpun berlalu pergi.
"aku pergi"
Sasya melangkah menjauhi dhariel y masih menatapnya.
"apa loe mencintainya?"
Dhariel menatap seragam ditangannya dan meremasnya.
Hujan telah reda, waktu menunjukkan pukul 5 sore, dyland mengantar sasya hingga depan rumahnya.
Sasya y mengenakan jaket mario terus menatap dyland y berdiri didepannya.
Sasya bahagia karena y mengantarnya pulang adalah dyland pujaannya tapi sasya merasa bersalah tlah meninggalkan dhariel begitu saja.
"masuklah"
Dyland menarik gagang pintu didepannya dan membukanya, kebetulan pintu rumah sasya saat itu tidak terkunci.
Sasya mengangguk.
"makasih,kamu udah anterin aku sampai rumah"
Kini giliran dyland y mengangguk.
Dyland melangkahkan kakinya menjauhi sasya y terus menatapnya.
Kini dyland berbelok kekanan dan memasuki gerbang rumahnya.
Dyland menghentikan langkahnya sejenak dan mendapati sasya y masih berdiri memandangnya.
Dyland mengambil hp disakunya dan memulai menekan tombol hp miliknya.
Tak beberapa lama hp sasya bergetar.
Satu sms masuk. Dan sasya segera membacanya.
From: B.O.Y dyland
Masuklah, udara diluar sangat dingin tak baik untuk kesehatanmu.
Sasya tersenyum sambil terus menatap pesan dalam layar hp miliknya.. Ia menatap kedepan ternyata sasya tak mendapati dyland disana.
Suara seseorang menutup pintu dari arah rumah dyland pun terdengar jelas oleh sasya.
Dyland berlalu masuk selesai mengirim teks untuk sasya.
*dhariel
Dhariel telah tiba dirumah, langkahnya langsung menaiki tangga disamping ruang makan keluarga, ia terus saja berjalan hingga tiba dikamar kesayangannya.
Suara sang mama yg memanggil namanya tak ia hiraukan.
Dgn cepat ia jatuhkan tubuhnya diranjang bermotif merah hitam itu.
Tasnya ia buang begitu saja kesegala arah.
Dhariel menutup matanya sambil mengacak rambut hitamnya.
"dhariel,kamu kenapa?"
Pertanyaan sang mama yg baru tiba membuat dhariel cemberut.
"kamu ada masalah dgn sekolah baru kamu, apa mau mama pindahkan kamu sekolah lagi?"
Dhariel menggeleng.
Mama menghampiri dhariel dan duduk disamping dhariel y masih berbaring.
"trus kenapa, sekarang kamu cerita sama mama"
Dhariel bangun dan merebahkan kepalanya ke pangkuan mamanya.
Mama membelai rambut lembut dhariel.
"sekolah baru dhariel keren, anak2nya juga asik, terlebih cewe2nya cantik2, dhariel jadi semangat sekolah"
Mama tersenyum sambil mendengarkan dhariel anak kesayangannya y masih bicara.
"wali kelas dhariel namanya bu Wina, bu wina itu baik dan wibawa tp dia bisa berubah galak seandainya ada murid didiknya yg kabur dan bolos.. Oh yah dhariel akan kenalin mama sama dion, dion itu teman sebangku dhariel, anaknya asik, luchu dan sedikit kuper tapi hatinya baik"
Dhariel menaikkan wajahnya menatap sang mama y tersenyum.
"dan dhariel ketemu dhyland"
Dhariel menundukkan kepala, ia tak mau sang mama melihat wajah sedihnya.
"dhyland teman kecil kamu?"
Tanya mama sambil menatap dhariel y masih menunduk.
"ia, dhyland sahabat kecil dhariel yg sangat dhariel sayangi, ternyata dia ga banyak berubah masih galak, angkuh, egois, pemarah, tapi potongan rambutnya sedikit berubah membuatnya terlihat lebih tanpan"
"apa dia mengenali kamu?"
Dhariel menggeleng sambil menaikkan wajahnya menghadap sang mama.
*sekolah
Butir2an embun akibat hujan kemarin masih tersisa didedaunan tanaman sekolah.
Beberapa anak tlah memulai aktifitasnya seperti biasa, mengerjakan PR dipagi hari dan beberapa siswa tampak sedang bermain bola didalam kelas.
Sasya menatap sekeliling sambil berlalu masuk kekelas, seperti hari2 sebelumnya pertama kali y ia lakukan setibanya dikelas adalah menatap meja kosong dyland.
Sasya hanya mendapati tas dyland y tergeletak diatas meja sedangkan sang pemiliknya tak tau kemana.
Tak mendapati dyland dikelas, setelah menaruh tas sasya memilih2 untuk mengintari kolidor sekolah siapa tau ia bertemu dyland.
"sasya"mario berkata sambil mensejajarkan langkahnya dgn sasya y terus berjalan.
"ada apa rio?"
"jaket gw mana sya, kemarin sama loe kan?"
Sasya mengangguk sambil terus berjalan.
"trus sekarang jaket gw mana?"
"oh, jaket kamu masih ada dirumah aku, kemarin hujannya deras bgd jadi jaket kamu kotor, tadi pagi baru aku cuci, besok baru bisa aku kembaliin kekamu"
Jelas sasya sambil menghentikan jalannya.
*dhariel
"cowo" sapa seseorang sambil duduk disamping dhariel yg sedang menyalin.
Dhariel berhenti menyalin dan menatap cewe tinggi disampingnya.
"gw dhariel"kata dhariel cuek dan kembali menyalin.
Cewe itu mengambil pulpoin y digunakan dhariel untuk menulis.
"gw viona, cewe tercantik disekolah ini" katanya memperkenalkan diri pada dhariel y menatapnya sinis.
"kembaliin pulpoin gw"
"galak banget seh jadi cowo, nanti ga laku loe"
Dhariel mencoba mengambil bulpoin dari tangan viona tapi gagal.
"kalau loe mau pulpoin loe kembali, temui gw dikantin istirahat nanti" viona berkata sambil berdiri dan pergi.
Dhariel menatap viona y terus melambai2kan pulpoin miliknya sambil menyulurkan lidahnya :P
"cewe aneh" fikir dhariel.
"hai" sasya berdiri disamping dhariel y sedang mencari pulpoin didalam tas.
Dhariel menatap sasya dan menutup tasnya.
"ada apa?" tanya dhariel diiringi senyum manisnya.
"bisa keluar sebentar?"
Tanya sasya dan dhariel mengangguk.
Merekapun berjalan keluar kelas.
"aku mau minta maaf karena kemarin aku ninggalin kamu" kata sasya bersalah dan dhariel hanya tersenyum.
"tidak masalah"
Kata2 dhariel membuat sasya tersenyum lega.
"tapi ada syaratnya" kali ini dhariel berkata sambil menaikkan kedua alisnya membuat sasya terkejut
"apa?"
"pulang sekolah nanti temenin gw ketoko buku tanpa alasan, ok's nona manis"
Dhariel berkata sambil mencubit pipi kanan sasya kemudian berlalu masuk.
*dyland
Dyland terus mengeluarkan isi laci mejanya mencari sesuatu.
Aldy y baru tiba langsung duduk didepan dyland.
"loe nyari apaan dil?" tanya aldy sambil membalikkan badannya kebelakang menghadap dyland.
"ipod" jawab dyland singkat tanpa menatap aldy dan terus mencari.
Kertas2 bercoret memenuhi meja dyland.
Aldy mengambil salah satu kertas dari meja dyland dan membaca tulisan yg tertera di sana.
Sementara dyland masih sibuk mencari.
"i love you girl"
Kata aldy sambil terus membaca tulisan y ternyata adalah tulisan tangan dyland.
"loe lanjutin baca, tangan loe patah" ancam dyland.
Aldy tak menghiraukan dan terus membaca.
"so i decided to write u this song and just to let you know exactly the way i feel, ajiibb"
"loe lanjutin baca, kaki loe ilang" ancam dyland lagi tp tetap tak dihiraukan oleh aldy. Aldy malah berdiri dan berjalan kedepan kelas.
"perhatian semua, gw mau bacain surat cinta dari dyland" teriak aldy. Semua matapun kini tertuju pada ketua kelas itu.
Hanya sasya y baru tiba y menatap dyland y menatap tajam aldy.
"to let you know my love is for real, because i love you and i'll do anything, if you should feel that i don't really care and that you're starting to lose ground,
Girl wont you please come on in"
Aldy menatap dyland sambil menunjukkan evil smilenya.
"loe lanjutin baca, kepala loe putus" ancam dyland untuk ketiga kalinya y masih tak dihiraukan aldy.
"i love you, sasya"
"sasya!" Teriak anak satu kelas sambil mengalihkan pandangannya kearah sasya y terdiam.
"benaran dil loe cinta sasya?" tanya beni y duduk disamping dyland.
Tak ada jwban dr mulut dyland.
"dyland cinta gw, apa ini mimpi"
"beneran dil, loe cinta sasya?" tanya beni lagi berharap ada jawaban dari bibir dyland.
Tapi nyatanya dyland masih terdiam.
"eh tunggu masih ada lanjutannya nech" perkataan aldy membuat semua siswa berbalik menatapnya.
"gw ga tau kenapa, setiap kali loe disisi gw, hati gw bahagia dan senang dan saat loe jauh hati gw sedih dan kehilangan, karena loe gw masih ada disekolah ini khususnya dikelas ini, karena loe gw sempetin hadir saat pelajaran matematika pelajaran y paling gw benci hanya untuk melihat senyum loe.
Karena loe gw berusaha cari masalah sama anak2 agar mereka marah dan menghajar gw hingga terluka hanya untuk melihat loe mengobati luka gw"
Sasya terus menatap dyland y menunduk sambil terus mendengarkan aldy y masih membaca.
"ahh,percuma gw nulis semua ini toh slamanya loe ga akan pernah tau perasaan gw y sebenarnya, selesai"
Aldy berkata sambil melipat kertas ditangannya dan menatap dyland.
"dyland, bisa dijelaskan apa y sebenarnya terjadi?"aldy berkata sambil mengikuti gaya bicara bapak kepala sekolah y lancang sambil bertolak pinggang.
Kini semua mata tertuju pada dyland.
Mira mendekati dyland dan menatap dyland tajam.
"hah, loe beneran suka sama sasya, ga salah tuh?"
"dyland suka sasya, sang troublemaker sekolah jatuh cinta sama siswi berprestasi disekolah, seharusnya loe sadar siapa loe dan siapa dia" kini giliran kiki y angkat bicara.
Sasya tak dapat bicara apa2 bibirnya seolah2 membeku.
"ternyata loe hebat juga dyl bisa jatuh cinta gw pikir loe cuma bisa buat masalah" kata beni sambil melakukan high5 dgn teman sebangkunya.
Kiki berjalan kearah sasya dan berdiri disamping sasya
"trus sya, apa jawaban loe, kalau gw jadi loe gw akan nolak dyland karena gw yakin masih banyak cowo y baik,ganteng pengertian buat gw, troublemaker itu cuma merepotkan dan gw ga mau cari mas.."
"CUKUP" teriak dyland keras memotong perkataan kiki membuat sekeliling kelas hening.
Dyland berdiri dari duduknya.
"yg jatuh cinta gw kenapa kalian rame, gw ga pernah minta pendapat kalian dan gw ga butuh"
Sasya menatap dyland yg terus bicara.
"emang salah kalau gw jatuh cinta, cinta itu halal untuk siapa saja termasuk gw sang troublemaker, jangan melihat sesuatu dari covernya tp lihatlah isinya dan apa salahnya jika gw mencintainya bukankah perbedaan y membuat kita satu"
Seisi kelas terpanah mendengar perkataan dyland.
"ga biasanya dyland berfikir dewasa"pikir mereka.
"ngomong apa gw barusan" dyland berkata bingung sambil menampar2 pipinya.
"idiot.. Idiot"
Dyland menatap sekeliling semua mata tertuju padanya.
Dyland menatap mario diluar jendela y mengancungkan jari tengahnya kearah dyland sambil tersenyum mengancam.
"dasar gay, kalau berani sini loe masuk" teriak dyland pada mario yg mengancamnya keluar kelas.
"Gw tunggu loe di gudang troublemaker" kata mario dan pergi.
"hah cari mati tuch orang" dyland berkata tanpa menyadari seisi kelas yg terus menatapnya.
Dyland berjalan kedepan mendekati aldy yg tersenyum tak berdosa.
"loe the end" ancam dyland pada aldy dan berlalu pergi.
Bel telah berbunyi pelajaranpun kembali dimulai.
CONTINUE....
Langganan:
Postingan (Atom)
